The Biggest ….. Free from Illegal Software
Sep 19

Akhir-akhir ini gw lagi sebel sama maskapai-maskapai penerbangan yang di indonesia. Terutama yang low price… Hal ini disebabkan karena kebijaksanaan mereka yang menurut penulis kurang banget deh… tanggal 13 Sept kemarin, gw berangkat di jakarta dengan pesawat b**a**a pukul 8.30. Karena datang kepagian di airport, gw masuk ke Executive Lounge (EL). Gw berangkat berdua dengan teman kantor. Karena waktu masih lama, kita melakukan diskusi mengenai pekerjaan yang harus dilakukan. Tak sadar waktu sudah menunjukan pukul 8.30. Dengan kagetnya saya langsung kontan bilang, kok tidak ada panggilan boarding?? Teman saya langsung menanyakan hal ini ke FrontDesk EL. Dengan santainya mereka menjawab “Pak, sudah last call dari 10 menit yang lalu”. Langsung saja kita nyelonong keluar dari lounge dan menuju gatenya. Waktu di depan gate, pihak bandara sudah mengatakan kalau sudah close gate dan kita disuru ke turun kebawah untuk masuk melalui bawah. Begitu kita turun, waktu menunjukkan pukul 8.35 dan dari pihak maskapai tidak mau menerima keterlambatan kita. Untuk keberangkatan berikutnya, pukul 14.30 dan kita dikenai denda 380 ribu. Arh…. mahal sekali… cukup untuk membeli tiket baru dengan konsekuensi tiket lama hangus (tidak ada refund, padahal pada tiket tertulis valid until 2 days). Akhirnya dengan panik, mencari-cari tiket dengan maskapai lain yang harganya murah. Setelah mendapatkan tiket, kita berdua sadar kenapa dari tadi kok tidak mengotot untuk minta tetap terbang. Sebenarnya saat masih close gate, kan masih bisa.

Namun bukan itu inti pemasalahannya, yang paling gw jengkel adalah knp saat sebuah maskapai delay keberangkatan bisa berjam jam dan tanpa kepastian, sedangkan apabila kita (penumpang) yang terlambat lain (bahkan sudah check in dan status sudah jelas kalau penumpang ada di lounge) tidak dicari terlebih dahulu atau minimal di call bagian ELnya??? Apakah kursi yang penumpangnya tidak terbang dijual lagi??? Apalagi kalau pesawat tersebut sempat transit.

Begitu banyak persaingan maskapai membuat biznis maskapai ini menghalalkan segala cara untuk meraih laba. Mulai dari penggelapan airport tax, penurunan maintenance, penghematan bahan bakar, sampai mengorbankan space untuk memuat barang (bagage).

3 Responses to “Delay vs Ontime Maskapai di Indonesia”

  1. JiE Says:

    Ohh.. batavia ? :D kekeke.. masio disensor masih kebaca :P
    Namanya juga low-fare flight, gak begitu care dengan customer experience (manajemennya mesti baca Starbucks Experience tuh). Mereka juga memperlakukan se-akan2 kita yg lebih butuh mereka ketimbang sebaliknya.

    EL-nya juga salah tuh, mestinya nge-ronda dong .. memastikan para tamu gak ketinggalan flight.

  2. Initial - J Says:

    Melanglang Via Executive Lounge

    If you’re new here, you may want to subscribe to my RSS feed. If you’re not familiar with RSS technology, u could subscribe via email. Thanks for visiting!Orang elit yang tampil sederhana biasa disebut rendah hati. Sebaliknya, org sederhana yg belaga…

  3. Rahmat Zikri Says:

    Belum pernah kena delayed sehari-semalam (24 jam) kan? Saya baru minggu lalu nyicipin :D

    Padahal maskapai penerbangannya adalah maskapai terbaik di dunia… Singapore Airlines. Padahal lagi, kalau dipikir-pikir saya ini ngga naik penerbangan ‘murah’. walau kelas ekonomi, pas kena tiket yang harganya hampir USD 3,000 (kalau naik penerbangan ‘jelek’ dan tiket promo bisa cuma USD 800)!

    Minggu lalu di bandara John F. Kennedy, New York, gara-gara kerusakan mesin, semua penumpang jadi diungsikan ke hotel-hotel di Long Island.

    Menurut teman-teman saya yang jadi pramugari di Singapore Airlines, delayed bukan hal yang aneh (baca: juga sudah biasa).

    Yang mungkin harus dilihat adalah sebab delay-nya. Kalau karena masalah safety, ngga apa-apa. Masa kita mau terbang dengan pesawat yang sedang rusak? tapi kalau delay karena manajemen waktu yang buruk, itu yang parah.

Leave a Reply